Wisata wayang wukirsari

- Preserving the Culture is a Part of Loving Indonesia -

Sejarah desa Wisata wayang wukirsari

Pada tahun 1946, terjadi penggabungan empat kelurahan dari Kelurahan Pucung, Giriloyo, Pajimatan dan Singosaren menjadi satu kelurahan yang dikenal sebagai Kelurahan Wukirsari. Hal tersebut terjadi karena daerah sudah diberikan hak otonomi oleh Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Wukirsari saat ini terdiri dari 16 dusun, yaitu Dusun Singosaren, Bendo, Mangung, Sindet, Tilaman, Pundung, Kedung Buweng, Karang Kulon, Giriloyo, Cengkehan, Nogosari I, Nogosari II, Karangasem, Jatirejo, Karangtalun, dan Dengkeng. Desa Wukirsari memiliki berbagai kebudayaan yang masih dilestarikan di setiap desanya, salah satunya adalah wayang.

Sentra Wayang di Desa Wukirsari melibatkan dua dusun, yaitu Dusun Karangasem dan Dusun Nogosari. Cikal bakal wayang kulit di Desa Wukirsari terjadi di Dusun Karangasem. Terjadinya cikal bakal tersebut pada tahun 1916 oleh Almarhum Atmo Karyo. Beliau merupakan seseorang yang mengabdi pada Keraton Yogyakarta yang berdomisili di Dusun Karangasem. Awalnya didasari oleh kakek dari Alm. Atmo Karyo yang berprofesi sebagai tukang gambar wayang. Mulai dari situ, Alm. Atmo Karyo membuat wayang kulit yang selanjutnya berkembang terus ke masyarakat yang berada di Dusun Karangasem. Perkembangan wayang kulit di Desa Wukirsari melewati masa penjajahan Belanda dan Jepang. Walaupun cikal bakal wayang kulit berasal dari Karangasem, tetapi wayang produksi lebih dikenal dengan sebutan Wayang Kulit Pucung.

Keistimewaan dari Wayang Kulit Pucung berdasarkan anggapan spiritual para dalang senior adalah bahwa wayang kulit yang diproduksi di Pucung merupakan wayang yang “Kewahyon”. Anggapan ini didasari karena penyempurna wayang pada dahulu kala, Prabu Sultan Agung, dimakamkan di daerah Pucung. Maka dari hal tersebut, wayang yang di produksi di Pucung diyakini masih mendapatkan wahyu tersebut. Jika dilihat dari segi produksi, waktu produksi wayang yang dihasilkan di Pucung lebih singkat daripada daerah lain. Di daerah lainnya membutuhkan waktu hingga 5-7 hari. Sedangkan di Pucung dalam satu hari dapat memproduksi dua wayang sekaligus.

Seiring perkembangan industri wayang kulit, para pengrajin membutuhkan sebuah wadah untuk menjangkau pasar. Dibentuknya beberapa kelompok usaha dan kelompok pengrajin untuk menjadi wadah. Kelompok-kelompok tersebut seperti Pucung Lestari, Pucung Bangkit, dan Pucung Manunggal sebagai kelompok yang menaungi semua pengrajin yang ada di Pucung. Namun dengan banyaknya peristiwa yang terjadi di Yogyakarta maupun di Indonesia, kelompok-kelompok tersebut mengalami tantangan-tantangan dari segi usahanya.

Selanjutnya pada tahun 2014, dibentuk sebuah paguyuban pengrajin wayang kulit yang diberi nama Wisata Wayang. Wisata Wayang memiliki visi untuk melestarikan budaya dan mensejahterakan masyarakat khususnya warga Desa Wukirsari. Pada awal berdiri, Wisata Wayang melakukan kegiatan operasional dengan cara meminjam Joglo PAUD Karangasem dan Joglo Desa Wukirsari sebagai tempat untuk menerima tamu yang ingin belajar membuat wayang. Saat ini dengan menjadi desa binaan Bank Central Asia (BCA) sejak tahun 2014 dan Pemerintah Desa, Wisata Wayang mendapatkan izin untuk menggunakan lahan kas yang selanjutnya digunakan untuk membangun infrastruktur wisata berupa joglo, kantor, pendopo kuliner, toilet, parkiran, dan pendopo pertunjukan. Saat ini, Wisata Wayang juga memiliki harapan untuk memajukan Desa Wukirsari dari segi wisata. 

LOKASI

Jl. Nogosari, Nogosari ll, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55782

JAM OPERASIONAL

Senin - Minggu
09.00 - 16.00 WIB

KONTAK

+6281 804 377 252
wisatawayang@gmail.com

© Copyright Wisata Wayang Wukirsari